TUGU MONAS

monas1.jpg

Menunggu itu menjemukan! Beberapa minggu lalu tiba di Gambir pukul sembilan pagi untuk keperluan bisnis sedangkan acara baru dimulai siang hari, karena masih ada waktu satu sampai dua jam nganggur akhirnya berjalan-jalanlah ke taman Monumen Nasional. Dengan lagak turis berputar-putar di sekeliling monumen tersebut sambil jeprat-jepret sana sini, masuk ke diorama museum sejarah, naik ke puncak monumen serta turun lagi ke bagian cawan.

Di bagian informasi tidak ditemukan booklet atau informasi yang berguna tentang monumen ini. Akhirnya mencari-cari di internet juga, ketemu artikel berikut dari cybertravel CBN, itu pun merupakan kutipan dari majalah tertentu. Gemana sih ni Pemda punya aset sejarah susah dicari informasinya?

Monumen Nasional yang biasanya disebut Monas adalah landmark-nya Jakarta. Layaknya patung Liberty di Amerika Serikat, Monas menunjukkan keagungan negara Indonesia tak hanya kota Jakarta. Gagasan untuk mendirikan Monas terwujud pada tanggal 17 Agustus 1961, saat perayaan 16 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Ketika itu dilakukan pemancangan tiang pertama oleh Bung Karno, Presiden RI pertama.

Monumen ini dibuka secara resmi pada tanggal 12 juli 1975. Monas melambangkan semangat juang bangsa Indonesia dalam perang kemerdekaan, yang dilambangkan pada tugu dan api abadi di puncaknya. Desain dan rencana Monas dibuat oleh arsitek Indonesia terkemuka saat itu, Soedarsono. Sedangkan penasihat konstruksi adalah Prof. Dr. Ir. Roosseno.

monas2.jpg

Ada tiga bagian penting Monas yang tampak jelas bahkan dari kejauhan. Pelataran cawan yang luas mendatar, tugu yang menjulang tinggi, dan di puncak tugu terdapat emas yang menggambarkan api menyala tak kunjung padam.

monas3.jpg

Tugu melambangkan lingga, alu atau antan, yaitu penumbuk beras. Pelataran cawan melambangkan yoni dan juga lumpang – wadah untuk beras yang sudah ditumbuk oleh lingga – dalam bentuk raksasa. Saat ini memang kedua alat tersebut sudah sangat jarang ditemukan di kota besar seperti Jakarta, tapi masih bisa ditemui di desa-desa. Dulunya, kedua alat rumah tangga tersebut bisa ditemukan di hampir setiap rumah tangga pribumi Indonesia. Yoni dan lingga melambangkan negatif dan positif seperti halnya siang dan malam, lelaki dan perempuan, air dan api, bumi dan langit, lambang dari alam yang abadi. Api menyala di puncak tugu melambangkan tekad bangsa Indonesia untuk berjuang dan membangun tak kan surut di sepanjang masa.

Monas menyimpan pula angka keramat bangsa Indonesia, 17 – 8 – 45. Pelataran cawan berbentuk bujur sangkar berukuran 45 m x 45 m, tingginya 17 meter, dan ruang Museum Sejarah Nasional (di dalam) setinggi 8 meter.

Yang paling menarik dari Monas adalah lidah api kemerdekaan di puncak tugu. Tingginya 14 meter, dibuat dari perunggu seberat 14, 5 ton terdiri dari 77 bagian yang disatukan dan seluruh permukaannya berlapis emas seberat lebih kurang 32 kg. Kabarnya emas ini berasal dari Rejang Lebong, Bengkulu. Ketinggian dari halaman tugu hingga ke titik puncak lidah api adalah 132 meter. Pada malam hari lidah api ini tampak sangat indah, bersinar, bahkan di kejauhan terkadang seperti siluet seorang perempuan sedang duduk.

Monas memiliki beberapa bagian di dalamnya. Museum Sejarah Nasional terdapat di bawah monumen menempati ruangan berukuran 80 m x 80 m berlapiskan batu pualam dengan tinggi 8 meter. Di sekeliling dindingnya terdapat 48 jendela kaca yang menggambarkan diorama perkembangan sejarah nasional Indonesia. Bisa dilihat di situ mulai dari kehidupan masyarakat purba, Perang Makassar abad ke-17,

Perlawanan Pattimura di Maluku tahun 1817, kelahiran Nasionalisme yang diilhami gerakan pendidikan Taman Siswa, kebangkitan gerakan Muhammadiyah tahun 1912 melalui kegiatan pendidikan sosial kebudayaan dan peranan gereja Katolik Roma yang memberikan sumbangan pada kesatuan nasional, sampai pada perang gerilya untuk meraih kemerdekaan tahun 1945-1949, serta referendum untuk menentukan nasib sendiri bagi rakyat Irian Barat tahun 1969.

Ruangan lainnya adalah Ruang Kemerdekaan yang terdapat pada tugu berbentuk cawan. Memasuki ruangan ini, rasa nasionalisme kita digugah. Ruangan dengan gaya ampiteater dengan suasana tenang ini penuh dengan atribut kemerdekaan bangsa Indonesia yaitu bendera Merah Putih, peta wilayah Indonesia, teks Proklamasi, dan lambang Bhineka Tunggal Ika yaitu Pancasila.

Bagian terakhir dari Monas adalah pelataran di puncak tugu yang ada pada keringgian 115 meter, seluas 11 m x llm dengan daya tampung 50 orang. Dengan elevator kita bisa naik ke puncak, dan dari siru kita bisa memandang kota Jakarta dari atas.

monas4.jpg

Kawasan Monas Sekarang
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kawasan Monas terbuka, sekarang berpagar. Pembangunan pagar atas instruksi Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, sempat diprotes banyak kalangan. Sekarang untuk memasuki kawasan Monas.kita harus melalui pintu-pintu tertentu, yang pada hari-hari biasa tidak dibuka semuanya kecuali Sabtu dan Minggu. Ada baiknya, Monas sekarang tampak lebih rapi dan tidak ada lagi pedagang-pedagang kakilima yang tadinya banyak sekali ditemui sehingga membuat tempat ini menjadi kotor.

Memang, kurangnya kawasan terbuka dan taman di kota Jakarta membuat Monas termasuk tempat favorit untuk bersantai. Lokasinya yang strategis di pusat kota membuat areal ini selalu tampak ramai saat akhir pekan. Saat itu banyak anak-anak muda ataupun keluarga berolah raga lari, jalan santai, ataupun sekadar duduk santai sambil mengobrol. Kita pun dapat berkeliling dengan menyewa kereta kuda (andong) yang banyak ditemui di sini.

Hesti Satrio – Sumber: Majalah Tamasya