Judul asIi : Socio-economic Marginalization of the Indigenous Betawinese Farmer in Jakarta

oleh : Hendro Prabowo , Ph D Student .Social Science Gadjah Mada University, Yogyakarta

Marginalisasi Ekonomi-Sosial Betawi di Jakarta

makalah penelitian marginaliassi ekonomi-sosial Betawi di Jakarta sebagai satu dampak migrasi, urban pendatang dan moderenisasi Jakarta. penelitian dilakukan di dua daerah :

  1. Sawangan merepresentasikan Betawi Pinggiran
  2. Teluk Naga merepresentasikan Betawi pesisir.

Betawi adalah satu kelompok dan populasi asli Jakarta etnis. Etnis ini dilahirkan sekitar 1815-1893 sebagai sebuah fusi banyak kelompok etnis yang tinggal bersama-sama di Jakarta, seperti: orang Sunda, Jawa, Arab, Orang bali, Sumbawa, Ambon, Cina dan Melayu.

Betawi dibedakan ke dalam empat kategori, mereka adalah :

  1. Betawinese Pusat
  2. Betawi kampung
  3. Betawi pesisir
  4. Betawi pinggiran

Sekarang ini, sebagai sebuah ibu kota setelah independen dari Indonesia, terdapat migrasi dari daerah lain ke Jakarta. Efek migrasi ini kepada penduduk asli (pribumi)

Betawi menjadi minoritas. Bahkan, Betawi satu detik pertumbuhan populasi tertinggi di Indonesia (2.34%), Jawa adalah populasi tertinggi di Jakarta (35.1%6) dan lebih

dibandingkan Betawi itu sendiri (27.65%) dan orang Sunda (15.27%)

Perkembangan cepat dan migrasi, sesungguhnya, mendorong n Betawi asli ke pinggiran kota di luar Jakarta. Hanya sedikit daerah kantong Betawi komunitas atau kampong berada hari ini. Petani Betawi memanfaatkan satu sumber daya terbatas untuk mata pencarian mereka. Mereka juga mengerjakan daratan yang dimiliki orang pendatang. kacau bleh…

Beberapa pakar menyadari bahwa Betawi adalah suatu pendatang baru di Jakarta.

Kelompok etnis yang ini dilahirkan sebagai sebuah fusi dari berbagai etnis lokal hidup/tinggal adalah hidup dan tinggal di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Orang bali, Sumbawanese, Ambonese, dan Melayudan juga Arab, Cina, Orang-orang Eropa, dan orang Philipina.

Anthropologist Indonesia, Dr.Yasmine Zaki Shahab BU memperkirakan bahwa Betawinese membentuk tentang satu abad lalu 1815-1893.

Penilaian berbasis pada penelitian dari sejarah demografis Jakarta populasi dipelopori oleh sejarawan Australia, Lance Castles. Di dalam era kolonial Belanda,pemerintah selalu menggunakan untuk sensus dan membedakan populasi ke dalam kelompok etnis.Sensus di Jakarta pada tahun 1615 dan 1815, terdapat satu berbagai kelompok etnis, tetapi terdapat tidak ada Betawinese…huhuhuuu apes dah …

Di sisi lainnya, sensus 1893 menunjukan tidak adanya etnis betawi dalam pengelompokan itu Sebagai contoh Arab dan Moors, Jawa dan orang Sunda, Sulawesi Selatan,Sumbaw, Ambo dan Banda, dan Malays.

Pada tahun 1923, Moh Husni Thamrin, salah seorang Tokoh Betawi, Perkoempoelan mengumumkan Kaoem Betawi. Hal ini adalah suatu momen bahwa Betawi adalah sebagai satu kelompok etnis dan sebagai sebuah kesatuan sosial dan politik.

Beberapa pakar dan peneliti mempercayai kepada hipotesis Castle tersebut di atas. Mereka adalah Koentjaraningrat (1975), Amri Marzali (1983), Probonegoro (1987), SupardiSuparlan (1990), Shahab (1994), dan Mona Lohanda (1996) (Siswantari, 2000). Tetapi,Ridwan Saidi, salah seorang tokoh betawi tidak sependapat dengan penelitian Lance castles.

populasi

Source: Castle (in Siswantari, 2000) Tabel Populasi Jkarta 1615

menuruti dengan Saidi asal muasal Betawi mengikuti kepada pendapat Bern Nothofer dalam teori tentang dialek Melayu di Jakarta. Bahasa berasal dari Polinesia Melayu dimana menyebar dari Kalimantan baratt.

Ben Nothofer mempercayai bahwa tentang abad ke-10 terdapat Melayu migrasi dari kerajaan Tarumanegara, Kalimantan Barat ke Jakarta, melalui Bangka dan Palembang. Orang pindah dari Melayu berakulturasi dengan rakyat setempat dari Java, dan kemudian angkatan baru diciptakan disebut Jawa Melayu. Pada abad ke-15, mereka memeluk Islam dan yang disebut Selam oleh Cina. orang Cina yang menyebut Selam, karena mereka merasakan kesulitan mengatakan Islam. Ini Jawa Melayu adalah satu pendiri Betawi.

Saidi (1994) berargumentasi bahwa Hindu Tarumanegara kerajaan terletak di tepi sungai Citarum sekarang perbatasan Jakarta dan Karawangotoritasnya adalah menyebarkan sampai area Bogor berdasarkan Catatan Ciaruteun dan Marunda ,

Catatan sejarah didaerah Kampung Batu Tumbuh, sekaran,g Kramat Tunggak. Mereka itusekarang disebut Betawi berasal dari orang kerajaan Tarumanegara.

MARJINALISASI BETAWI

Betawi adalah populasi dan salah satu dari kelompok etnis asli yang tinggal hidup bersama-sama di Jakarta. Bahkan populasi Jakarta, dikumpulkan dari semua etnis berbeda itu dan kelompok budaya, sehingga kita juga disebut satu pot peleburan. Sekitar 8 juta orang tinggal hidup didalam Jakarta merepresentasikan hampir semua kelompok etnis dalam kepulauan.

Republik Indonesia memutuskan Jakarta itu sebagai sebuah ibu kota pos independen dari Indonesia, kita tidak bisa menghindari bahwa ada migrasi kepada Jakarta dari daerah lain. Hal ini migrasi mempengaruhi kepada Betawi asli ke dalam minoritas atau sebagian kecil suku yang ada di Jakarta

perbandingan suku dijakarta

Table 2. table perbandingan betawi dengan etnis lain di jakarta

Berdasarkan pada tabel 2, perkembangan cepat Jakarta dan migrasi mempengaruhi kepada peruntuhan etnis Betawi terhadap daratan milik mereka sendiri. Populasi Mereka juga berkurang semakin banyak.

Untuk menanggapi dimana kondisi, sejak 1950-an beberapa tokoh Betawi mendirikan organisasi. Reaksi dari semangkin berkembangnya dan pertumbuhan migrasi dan pengembangan Jakarta. Pada tahun 1970-an, pendirian organisasi menjadi lebih sering. I mengapa pada tahun 1980-an terdapat satu opini ke menemukan payung organisasi. Tabel di bawah menjelaskan fenomena itu.

organisasi masyarakat betawi

Table 3. Organisasi warga Betawi sejak tahun 1950

Perkembangan cepat dan urbanisasi Jakarta telah membuat populasi Betawi tertinggal semakin banyak di luar Jakarta. Orang yang ada di Jakarta saati ini lebih dari Orang Betawiitu sendiri.

Beberapa kelompok etnis tinggal di Jakarta

  • Jawa (35.16%),
  • Betawi (27.65%),
  • Orang Sunda (15.27%),
  • lain (6.48%)
  • Cina(5.53%),
  • Batak (3.61%),
  • Minangkabau (3.18%),
  • Melayu (1.62%),
  • Bugis(0.59%),
  • Madura (0.57%),
  • Banten (0.25%),
  • dan Banjar (0.10%).

Pada kenyataannya populasi Betawi asli meningkat 5 kali pada dekade1930 dan 2000, dari 980,863 menjadi 5,041,688 orang atau tumbuh 2.34% rata-rata. 54.35% dari mereka sebagian besar tinggal di provinsi Banten dan Jawa Barat serta hanya 45.65% tinggal dan hidup diJakarta.

diagram populasi masyrakat betawi

Figure 1. table perbandingan suku di jakarta

Terdapat dua opini kontradiksi untuk menanggapi fenomena ini : optimisme dan pesimisme. Opini optimis mengatakan bahwa Betawi tidak hilang dan adalah di hilangkan, karena proses asimilasi dari banyak kelompok etnis yang ada di Indonesia tersebut. hingga sekarang. Betawi adalah dilahirkan dari proses jangka panjang itu asimilasi itu sendiri.

Di sisi lainnya, opini pesimis meredakan bahwa ada dua faktor-faktor, mikro dan makro. Faktor makro mempercayai bahwa marginalisasi Betawi disebabkan oleh migrasi dan cepat dari pengembangan. Beberapa pakar yang menyetujui ke hal ini ,opini adalah figur Betawi seperti Yasmin Shahab, M. Hoed, dan Firman Muntaco.

Sesuai dengan Shahab perkembangan cepat Jakarta menyebabkan pencabutan orang Betawin dari kelompok mereka. Itu juga menciptakan kekurangan komunikasi di antara keduanya. Itu menyebabkan, mengapa orang betawi mendirikan organisasi.

Orang dan rumah mereka dirobohkan, dan dengan tragis kuburan mereka juga dirobohkan. Sebagian besar korban perobohan adalah asli betawi dan diciptakan menelentang Betawi, mereka tinggal di di pinggiran kota. Tetapi, faktor mikro mem percayai itu marginalisasi dipengaruhi oleh faktor internal. Beberapa penelitian dalam daerah kantong kampung Betawi seperti di Condet menunjukan bahwa kultur Betawi salah satu faktor dari marginalisasi. Pada 1970-an, pemda Jakarta memulai satu

konservasi Budaya di Condet, Jakarta Timur. Konservasi di Condet mencakup daratan, kultur dan agrikultur. hanya, konservasi dari pemerintah itu tidak berjalan alias gatot, gagal. Banyak pendatang dari kelompok etnis yang lain adalah populasi dominan dalam daerah kantong kampung. menurut Prabowo (1998), populasi asli adalah dominan di 1970-an dan melemah pada 1990-an.

Shahab (2000) menggolongkan Betawi berdasarkan pada karakteristik ,karakteristik itu dibagi dalam empat kategori: Betawi Pusat, Betawi Di pinggiran kota, Betawi Desa ,

Betawi Pesisir.

  1. Pusat atau Kota Betawi, hidup dan tinggal di sekitar Gambir, Menteng, Senen, Kemayoran,Sawah Besar, dan Taman Sari. Betawi pusat yang kental dengan ucapan ” e ” seperti : ape..? ade. kenape…
  1. Betawi pinggiran kota, hidup dan tinggal di sekitar Pasar Rebo, Pasar Minggu, Pulo Gadung, Jatinegara, Kebayoran, dan Mampang Prapatan.
  1. Desa atau Betawi Udik, tinggal di area Cengkareng, Tangerang, Batu Ceper, Cileduk, Ciputat, Sawangan, Cimanggis, Pondok Gede, Bekasi, KebonJeruk, Kebayoran Lama, Cilandak, Kramat Jati, dan Cakung
  1. Betawinese Pantai, hidup dan tinggal di sekitar Teluk Naga, Mauk, Japad, Tanjung Priok,Marunda, Kalapa, dan Kepulauan Seribu .

Terdapat dua jenis [dari] Village Betawinese:

  1. Mereka dipengaruhi oleh kultur Cina, tinggal di bagian utara dan bagian Barat Jakarta dan Tangerang.
  2. Mereka dipengaruhi oleh kultur orang Sunda, tinggal di bagian timur dan selatan Jakarta, Bekasi dan Bogor. Dari dialek, mereka juga disebut “Betawi Ora”, itu ditandai oleh akhiran “satu” ke dalam “ah”. Sawangan merepresentasikan Betawi pinggiran dan Teluk Naga merepresentasikan Betawi pesisir

Kampung daerah kantong ini yang Berdua adalah marginalisasi

Sawangan

Penelitian dilakukan di RT 2 RW01 Rangkepan Jaya desa, Pancoran Mas , sub distrik, Depok. Lingkungan terletak dekat dengan Kelurahan Rangkapan Jaya kantor. Pada dasarnya, area RT 02 adalah satu area agrikultur subur. Tetapi, bidang padi tergantung oleh air hujan dan baik bagi irigasi, air hujan dimusim hujan dan baik di musim kemarau.

Rangkepan Jaya desa adalah terletak bagian Barat dari kota Depok, dan batasan-batasannya adalah :

a. Sebelah Utara di desa Grogol, Limo

b. Sebelah Timur di desa Mampang

c. Sebelah Selatan di Pancoran Mas desa, Pancoran

d. Sebelah Barat di Kampung Jaya Baru.

Berbagai tanaman berkembang dalam area dan tergolonge dalam perkebunan serta tanaman keras. Perkebunan memerlukan air selama pemrosesan secara terus menerus dan meliputi sayur-mayur seperti: ketimun, kacang hijau, bayam, ubi manis, maizena/sejenis tanaman jagung, dan lain-lain.

Dengan tanaman keras meliputi buah-buahan seperti : buah nangka, rambutan, jeruk, buah asam, jambu biji, dan lain-lain.

Daratan agrikultur dimiliki orang lain penduduk memanfaatknya atau sebagai pengurus tanaman. Orang pribumi tinggal di rumah sendiri atau menyewa. Di depan rumah, ada beberapa tanaman keras.

Terdapat 43 keluarga tinggal di desa. Kira-kira, sekeluarga mempunyai 4 anak-anak atau lebih sedikit. Tingkat pendidikan adalah tidak lagi rendah, sebagian besar sekolah dasar dan hanya sekitar 20% orang menyelesaikan di Sekolah menengah pertama. Jadi, mereka sebagian besar bekerja sebagai seorang pekerja.

Sekitar 34% orang pekerja agrikultur dan tukang kayu, dan 32% dari mereka supir dan ” tukang Ojek” Sekitar 18% ibu rumah tangga/pembantu, dan 10% dari mereka adalah pedagang.

Sebagai akibatnya, pendapatan juga tidak lagi rendah. Sekitar 75% pendapatan keluarga kurang dari Rp. 800.000,- setiap bulan, 40% Rp. 500.000,- 10 % lebih sedikit dibandingkan Rp. 300.000,-. Sungguhpun mereka mempunyai pendapatan rendah, tidak ada orang tunawisma karena mereka pada dasarnya mempunyai rumah dari orangtua mereka sebelumnya. Orang tua Mereka biasanya mempunyai tanah untuk di wariskan kepada ahli waris atau anak-anak mereka atau menjual kepada orang pendatang. Sekarang ini, sebagian besar pribumi menggunakan tanah hanya untuk perumahan. Hanya sekitar 20 % keluarga mengarap tanahh pertaniannya untuk bercocok tanam, dan tingal tersisa hanya sekitar 200 m2.

Sekitar 40 % penduduk adalah orang pendatang dari Jakarta, Depok dan Jawa Tengah. Dengan tragis, orang pindah dari Jakarta adalah orang Betawi yang mana adalah korban dari penggusuran, Mereka berasal dari Cipinang Muara, Kota Bambu, Manggarai dan Blok Tengki. Mereka tergusur dan terpaksa untuk merelokasi karena tanah mereka dipakai oleh proyek – proyek pemerintah.

Kegiatan Sosial

Pada dasarnya, Betawi asli adalah satu ikatan komunitas yang kuat. Kebanyakan mereka adalah Muslim. Kegiatan sosial yang berhubungan dengan perayaan (seperti perkawinan, ngengat ketujuh kehamilan, khitanan, rambut bayi potong, perayaan untuk nenek mo/”tahlilan”) dan kelompok religius. Berdua aktivitas-aktivitas seperti “kondangan”. kelompok kondangan di Sawangan memformalkan komitmen timbal balik , sekelompok empat puluh laki-laki atau lebih , sebagian besar berhubungan, men yokong keuangan, makanan, bantuan, dan keikutsertaan mereka di setiap perayaan dipegang oleh anggota. Kontribusi adalah secara normal persis sama halnya yang di berikan sebelumnya perayaan oleh penerima. sebagao catatan adalah menyimpan /naro, apa setiap anggota yang membantunya dan secepatnya, kontribusi dibuat oleh satu adalah dikembalikan oleh lain sehingga satu terjadi hubungan timbal balik yang berupa bantuan dana atau barang.

Penjelmaan dari ikatan sosial dan religius ,adalah pengajian serta aktivitas-aktivitas keagamaan lainnya. Mereka mempunyai tiga kelompok keagamaan meliputi kelompok penhajian anak muda, ibu rumah tangga, dan pengajian bapak-bapak. Pada setiap minggunya masing-masing kelompok membaca Al Qur’an dan mempelajari hukum islam.

Kegiatan Ekonomi

Kegiatan ekonomi berhubungan denganpertanian dimana sejumlah orang terlibat dalam proses pertanian itu sendiri, Pemrosesan meliputi pengolahan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan,pemanenan, dan pemasaran. Seorang petani biasanya melakukan pengerjaan proses itu sendiri, dan dalam tahapan pemanenan keluarag ikut terlibat dalam proses ituProses lebih lanjut, perantara ( calo /tengkulak) menangani pemasaran, dia menjual kepada pedagang di pasar tradisional. Pemilik lahan juga turut serta dalam pemanenan tanaman keras seperti buah-buahan

Marginalization

Sungguhpun penduduk asli adalah betul-betul komunitas Islam, tidak ada anak-anak dan masa remaja yang belajar di “Pondok Pesantren” asrama sekolah khusus dan di sana tidak banyak orang dewasa yang berangkat haji. pada dasarnya mereka ingin, akan tetapi dari sebagian dari mereka tidak cukup uang untuk melakukan haji

Dengan semangkin berkurangnya lahan utnuk pertanian, sangat mempengaruhi pola kehidupan penduduk disanaPenduduk bisanya bekerja setengah hari dalam bidang pertanian kemudian Orang biasanya bekerja dalam bidang yang lain seperti: berdagang, supir, ” narik becak” , dan pekerja industri. Di sisi lainnya, kaum ibu juga bekerja sebagai pembantu, menganyam anyaman tikar, mengajar, berternak, membuat makanan ringan dan lain.

Sayangnya, warga betawi yang ada disana tidak mengenali petugas pemda. petugas pemda biasanya orang Sunda tidak memahami keberadaan mereka, keduanya dalam bahasa dan kultur. Mereka merasakan keluhan kepada pemerintah karena mereka tidak diberikan kesempatan untuk menjadi aparat, dikarenakan pendidikan rendah, dan tidak ada uang untuk menyogok (uang suap). Mereka membayar pajak tetapi pajak tidak bisa memecahkan pengangguran. Sebagian dari korban penggusuran dari pusat kota merasa tidak artinya bekerja di jakarta . Oleh karena kekurangan pendidikan, ekonomi dan kesempatan untuk bekerja, mereka menyetujui untuk mendapat bantuan untuk mengembangkan keterampilan usahawan mereka. Melalui usahawan agrikultur keterampilan, mereka berharap untuk mendapatkan lebih banyak manfaat di masa datang.

Teluk Naga

~~~belum di edit yang ini..:) ~~~~~

Teluk Naga ia juga satu kampung daerah kantong [dari] Betawinese, tetapi adalah tidak lagi berbeda dari Sawangan. Teluk Naga adalah satu kampung pantai dan hanya sedikit orang pindah yang tinggal/hidup disana. Kontroversi dengan Sawangan, Teluk Naga tidak kampung menarik untuk tinggal/hidup. Hanya sedikit Jawa tinggal di/dalam Teluk Naga. Mereka adalah karyawan dari para pelaku bisnis kolam ikan. pertanyaan penelitian: bagaimana marginalization Betawinese di/dalam Teluk Naga? [yang] faktor mempengaruhi orang pindah tidak menarik untuk tinggal di/dalam Teluk Naga?

Betawinese Teluk Naga tinggal di kawasan pantai bagian utara, bagian Barat Jakarta. Terletak di kampung Muaratanahpreman, Desa Muara, Teluk Naga sub distrik,

Tangerang Regency, Teluk Naga adalah 10 kilometer bagian utara dari bandara Soekarno-Hatta dan selatan dari Kepulauan Seribu (Ribu Island). Akses dari bandara

lebih sulit maka akses laut ke/pada Thousand Island.

Untuk menggapai ke luar dari Teluk Naga, ada tiga jalan/cara. Pertama, dari bandara melalui area gudang (jalan Perancis) – Dadap, pergi ke barat melalui Kosambi dan Salembaranjati, pergi ke utara. Kedua, dari Salembaranjati, kita bisa menggapai ke luar Teluk Naga melalui sekitar 5 kilometer jalan pecah. Ketiga, dari Cengkareng atau Tegal Alur ke/pada Kamal Muara itu Dadap tertutup bagi. Tahun lalu, ada satu publik barutransportasi dari Kampung Melayu ke/pada Teluk Naga melalui suatu jalan desa sekitar 15 kilometer.

Batasan-batasan [dari] Teluk Naga:

satu. Ke perbatasan Utara ke/pada Laut Jawa

b. Ke perbatasan Timur ke/pada kecamatan Kepulauan Seribu, Jakarta Bay, dan Laut Jawa

c. Ke perbatasan Selatan ke/pada desa Salembaran Jati

d. Ke perbatasan Barat ke/pada desa Tegalangus dan desa Tanjung Pasir.

Condition Ekonomi-sosial

Pada dasarnya, Betawinese Teluk Naga adalah Muslim dan mempunyai satu penghuni berhubungan ke/pada perikanan. Penyelesaian Mereka adalah antara tambak itu bukan milik mereka lagi. Sebagian besar orang tahu satu sama lain. Mereka menghabiskan mereka senggang di depan rumah dengan lelucon dan keakraban. Dengan hanya sekitar 3.500 orang menghuni suatu daratan lebar/luas, mayoritas [dari] penduduk /penghuni adalah pendidikan rendah. Hanya sekitar 40 orang menyelesaikan di/dalam Sekolah menengah pertama dan hanya sekitar 15 orang menyelesaikan di Sekolah menengah atas. Terdapat penelitian orang di universitas.

Saat ini, Teluk Naga satu Sekolah dasar, dekat dengan kampung. Ke/pada melanjutkan pendidikan, mereka bisa memilih satu Sekolah menengah pertama diluar dari kampung. Terutama untuk lemah/miskin, ada satu membuka Sekolah menengah pertama.

Terdapat dua berbagai jenis rumah dalam kampung, rumah tradisional dan modern.

Terdapat hanya sedikit rumah modern dibuat dari dinding beton dan ubin atap.rumah tradisional adalah dibuat dari bambu dan “nipah” telapak tangan. Terdapat satu-satunya duamesjid dengan kekurangan pemeliharaan. Terdapat satu-satunya 5 kandang untuk kebutuhan sehari-hari [dari] penduduk/penghuni dan di sana adalah suatu pasar lebih besar untuk lebih banyak pembelian di/dalam Kampung Melayu.

Jabatan/pendudukan yang berhubungan dengan perikanan sedang menangkap ikan dalam muara dan dalam sisilaut. Teknologi ini yang Berdua adalah sederhana. Dalam muara, orang menggunakan bubu disebut “serok” dan jala ikan. Di/dalam pantai, mereka menggunakan bubu lebih dalam (3 – 7 meter) dan dua perahu. Metoda ini adalah tidak lagi sulit (complicated) dan tidak dapat dilakukan lepas pantai. Ini keseluruhan

teknologi diproduksi hanya sangat sedikit saja ikan. Pada umumnya, mereka menjual ikan ke/pada KamalMuara lewat laut dan hasil akan membagi bersama untuk nelayan serta pemilik perahu.Nelayan menjual baik dan tinggal ikan lebih buruk untuk mengkonsumsi.

Pemilik perahu adalah beberapa orang [dari] kampung. Mereka telah uang dan dibeli satu bekas perahu dari Dadap. Di/dalam Dadap, terdapat nelayan dari Bugis (etnis kelompok dari South Sulawesi) dan Indramayu (Jawa dari Jawa Barat). Itu mengapa, ada dua berbagai jenis perahu di/dalam Teluk Naga, Gaya Bugis dan gaya Indramayu.

Pendapatan harian [dari] Teluk Naga penduduk/penghuni adalah tentang Rp. 15.000,-. Dalam satu lebih baik kondisi, mereka dapat mendapatkan/mencapai Rp. 40.000,- per hari. Tetapi, tidak suka keberuntungan mereka mendapat tidak ada apapun. Bahkan,

mereka harus menghabiskan uang untuk bahan bakar tanpa pendapatan. Adalah dengan keras untuk penyelamatan/tabungan dan mendapatkan/mencapai lebih tinggi pendidikan untuk anak-anak.Walaupun, ada banyak tambak dalam kampung, orang di/dalam Teluk Naga melakukan tidak mempunyai mereka lagi. Tambak adalah dimiliki boss dari luar kampung.Karyawan dari]kolam yang biasanya Jawa dan datang di luar kampung. Boss menyewa tambak mereka tentang Rp. 3.000.000, – Rp. 4.000.000,- setiap tahun. Salah satu dari penyewa mengatakan bahwa dia bisa mengasuh 5.000 milkfish selama sekitar empat bulan. Diaakan memanen 1,5 ton milkfish atau tentang Rp. 12.000.000,-. (Rp. 8.000,- setiap kilogram).Beberapa dari orang adalah pembuat udang fishnet dan fermented. Produk dari inibiasanya menggunakan dengan sendirinya. Mereka juga mencoba untuk menanami kupang hijau, tetapi gagal oleh karenaangin dan lebih sedikit dari lumpur. Di samping itu, mereka tidak mempunyai uang untuk menanami hijau kupang.

Pada umumnya, nelayan di Jawa bagian utara mempunyai satu pengetahuan lokal tentang jadual dari pelayaran. Pada bulan Maret – Juli adalah satu momen yang cocok untuk berlayar ke laut. Sementara itu pada bulan Agustus -September adalah satu musim angin Timur dan pada bulan Oktober – Februari adalah musim angin Barat. Di

musim angin, nelayan tidak berlayar ke/pada laut.

Hanya sebagian dari nelayan di Teluk Naga menggunakan pengetahuan lokal. Adalah oleh karena aktivitas semakin sedikit lepas pantai. Di samping itu, lingkungannya yang sempit dan dan lebih sedikit dari hutan akses menghasilkan marginalisasi Teluk Naga. Orang pendatang tidak meningkatkan/bertambah untuk tinggal di wilayah itu dan tidak saling berhubungan dengan rakyat setempat. Hubungan budaya Semakin sedikit dan di sana adalah tidak ada khusus nelayan.

Marginalisasi nelayan mempengaruhi untuk orang tinggal di kampung itu digunakan untuk menjaga tambak/ kolam ikan.

Kontroversi, Kampung Dadap dan Muara Kamal mempunyai satu akses lebih baik dan sungai lebih luas. akses menciptakan kegiatan ekonomi dan menjadi salah satu faktor untuk pendatang untuk tinggal di daerah tersebut.. Nelayan menggunakan Sungai yang lebar untuk memarkir perahu mereka. Teluk Naga adalah suatu wilayah yang luas. Sebagian besar dari wilayahnya adalah tambak dan hanya sebagian kecil untuk pertanian. Tambak adalah dimiliki orang asing, sehingga masyarakat menggunakan sumber daya alamnya secara terbatas.

Salah satu dari sungai melintasi kampung adalah sungai kecil, satu cabang dari Sungai Cisadane . Di sungai, orang menggunakan bubu “seser” dan jala ikan serta “bubu”, lain jenis perangkap ikan. Sepanjang tiga sungai, banyak wisatawan lokal datang untuk memancing setiap akhir pekan. Pertanian sementara juga dikembangkan pada daratan terbatas di pinggi sungai.

Kesimpulan

Sawangan dan Teluk Naga adalah potret dari marginalisasi suku Betawi, agrikultur dan perikanan merepresentasikan. Marginalisasi ekonomi-sosial tercakup di pendidikan, kepemilikan, teknologi, sumber-sumber daya, dan kesempatan pekerjaan. Keberadaan pendatang atau kelompok suku yang lain tidak mempengaruhi kepada Betawi asli khususnya dalam bidang ekonomi. Secara sosial, dominasi mereka persis marginalisasi Betawi asli

Reference

Bappeda DKI Jakarta. 2001. Masyarakat Betawi. http://www.bappedajakarta. go.id/

HENDRO PRABOWO