EKSPLORASI HUMOR / KOMEDI, POTENSI DAN PROFESI

PROLOOG

Kata Eksplor bermakna Gali, Perbaharui / Up grade. Humor/Komedi itu bersifat dinamis artinya senantiasa bergerak (tidak diam) mengikuti situasi dan kondisi ( ruang dan waktu ), oleh karena itu Humor harus senantiasa di eksplor (digali atau diperbaharui).

Potensi diri sama dengan Bakat/Talenta, harus senantiasa di Up Grade atau dilatih untuk semakin maju dan berkwalitas.

Profesi atau bidang pekerjaan, untuk dapat disebut sebagai Pelawak yang profesional senantiasa harus diupayakan/digerakan dengan sikap mental, dedikasi, motivasi dan pengetahuan managemen.

EKSPLORASI HUMOR

Humor/Komedi/Lelucon adalah sesuatu yang bersifat lucu, menggelitik yang dapat membuat orang jadi tersenyum, tertawa bahkan terbahak-bahak karena melihat, mendengar atau membacanya.

Mengekplorasi Humor/Komedi, Potensi merupakan keharusan dilakukan bagi setiap Pelawak/Komedian untuk jadi Profesional caranya dengan rajin membaca apa saja, mengamati apa saja dengan rasa dan perasaan humor.

Setelah sering melakukan hal tersebut lalu berlatihlah diri anda untuk mengekspresikannya, Humor dapat disampaikan atau diekspresikan dengan bahasa gerak tubuh, atau dengan bahasa ucapan (penyampaian kata-kata) dapat juga dengan bahasa tulisan dan gambar.

Mengekspresikan Humor/Komedi/lelucon dengan bahasa tubuh seperti yang sering dilakukan oleh Pelawak JOJON yang senantiasa berakting lucu dengan mimiknya, cara jalannya, cara bicara (gerak bibir), atau Pelawak BOLOT yang berakting Tuli sehingga membuat orang jadi tertawa.

Mengekspresikan Humor/Komedi/lelucon dalam bentuk tulisan

  • Lelucon SMS anda dapat mencoba kemampuan humor yang dimiliki dengan mengirim SMS lucu kepada siapa saja apakah sipenerima dapat tertawa atau minimal tersenyum karena SMS anda.
  • Lelucon Pendek ( Joke )
  • Kalimat Lucu (One Liner)
  • Lelucon Tokoh ( Anekdot )
  • Lelucon Cerita / Cerpen Lucu untuk mengetahui kemampuan yang anda miliki anda dapat membuat tulisan cerita pendek lucu kemudian kirimkan keredaksi media cetak seperti Koran, Tabloid atau Majalah apa saja, andai tulisan anda diterima / dimuat, maka akan mendatangkan hasil berupa upah/uang.
  • Lelucon Panjang/Novel Lucu
  • Lelucon untuk Pentas Lawak/Komedi
  • Lelucon untuk Film Komedi (scenario)
  • Lelucon untuk cindera mata dan lain-lain.

EKSPLORASI POTENSI

Potensi diri lebih kepada kepemilikan Bakat/Talenta, Untuk menjadi seorang profesional bakat yang dianugrahkan Tuhan hanya jadi sebagian kecil dari proses menjadi Pelawak profesional, anda harus selalu memotivasi diri dan berdedikasi tinggi dan Percaya Diri bahwa anda memang mampu

Ada kata Pepatah : ” alah bisa karena biasa ” makna dari pepatah tersebut bagi seorang yang ingin menjadi Pelawak yang profesional maka diwajibkan berlatih sesering mungkin sebelum pentas dan mengevaluasi setelah pentas.

Hasil sempurna bukanlah aksi tunggal, tetapi ia adalah sebuah kebiasaan, apa yang anda kerjakan berulang-ulang menjadikan siapa diri anda. Sebagai referensi perlu anda ketahui tentang Anatomi Lelucon di Indonesia

  • ­ Guyon parikena, isi:leluconnya bersifat nakal, agak menyindir, tapi tidak terlalu tajam bahkan cenderung sopan. Dilakukan oleh bawahan kepada atasan atau orang yang lebih tua atau yang dihormati, atau kepada pihak yang belum akrab. Lelucon gaya ini disebut juga lelucon persuasif dan berbau feodalisme.
  • ­ Sinisme, kecenderungannya memandang rendah pihak lain. Lelucon ini lebih banyak digunakan pada situasi konfrontatif, targetnya membuat lawan atau pihak lain mati kutu bahkan cemar. Lelucon gaya ini sering di gunakan oleh Komeng.
  • ­ Satire. Sama-sama menyindir atau mengkritik tapi muatan ejekannya lebih dominan.
  • ­Plesetan (Imitation and parody). Isinya memelesetkan segala sesuatu yg telah mapan atau populer, terobosannya lewat pintu tak terduga dan mengundang surprise. Sering dilakukan oleh Pelawak Kelik (wapres Demo Crazy) atau pada acara Republik BBM Metro TV.
  • ­ Slipstick. Lawakan kasar seperti orang terjengkang, Kepala dipukul, pendek kata binal. Lelucon ini efektif memancing tawa masyarakat yang latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi tertentu.
  • ­Olah logika. Lelucon bergaya analisis. Lelucon ini digemari masyarakat tertentu terutama kalangan terdidik. Gaya lawakan model ini dulu sering dibawakan oleh Warkop DKI, Bagito, dll.
  • ­ Analogi. Didasarkan kedunia anuland, antah berantah untuk mencapai persamaan dengan kondisi atau situasi yang ingin di ” bidik “.
  • ­ Unggul – pecundang. Sering disebut teori superioritas inferioritas. Lelucon yang muncul dari perasaan diri unggul karena melihat cacat, kesalahan, kebodohan, kemalangan pihak lain.
  • ­ Seks. Bukan seks dalam arti gender atau jenis kelamin, tetapi yang mengandung makna keporno-pornoan, atau bahkan full porno. Lelucon ini banyak beredar dikalangan terbatas saja.
  • ­ Olah Estetika. Lelucon ini lebih banyak dinikmati didunia panggung, pertunjukan, pameran, atau paket audio visual, isinya mungkin sedikit tapi pengemasannya sangat mengesankan.
  • ­ Kelam. Sering juga disebut black humor karena isinya tentang segala sadisme dan keberutalan.
  • ­ Surealisme. Lengkapnya magic and surrealism. Dunia nirlogika . Melompat dari makna-makna yang sudah disepakati. Lelucon corak ini sering dijumpai  dinovel-novel karya Iwan Simatupang dan Putu Wijaya.

EKSPLORASI PROFESI

Professi sebagai Pelawak dapat menjadikan pelakunya sangat sukses dan ter kenal, namun untuk sampai pada seperti itu dibutuhkan kiat-kiat untuk menuju sukses yang lebih kepada cara modern yang dikenal dengan sebutan ilmu/pengetahuan management.

Bagaimana memenej diri pribadi, juga memenej group atau kelompok untuk senantiasa tampil baik dan mengesankan sehingga kehadirannya dimanapun senantiasa mendapat aplouse bagi yang menontonnya.

MACAM-MACAM NAMA, MODEL DAN GAYA PELAWAK DAN MELAWAK

Di Jawa Barat ada kesenian Reog dan kesenian Calung, kedua kesenian itu mengekspresikan lawak dengan dukungan alat musik dan lagu ( Singing and Comedian ) gaya/model lawakan ini sering disajikan group lawak D’Bodor, Team Lo.

  • Reog Jawa Barat dimainkan 4 orang Pelawak masing-masing membawa dan memainkan alat musik berupa tambur (bedug) yang disebut Dogdog dengan ukuran berbeda dari yang terkecil hingga terbesar, nada/suara bunyinya pun berbeda dibuat harmonis untuk dapat mengiringi lagu yang dinyanyikan, melawak dikesenian Reog ini diatur pakem dan prosentasi melawak 60 % dan nyanyi 40 %. Group Reog terkenal diera tahun 70 adalah Reog BKAK dengan Pelawaknya Mang Udi (dalang), Mang Ari (wkl. Dalang), Mang Diman dan Mang Dudung sebagai Bodornya (Boom).
  • Calung sama gaya melawaknya dengan Reog, perbedaannya pada alat musik, dan aturan/pakem melawak. Karena Calung alatnya terbuat dari batang bamboo yang telah diatur nadanya tidak Cuma harmonis tapi juga melodis, maka prosentasi melawak lebih kecil dari menyanyi (Lawak 40 %, Lagu 60 %).
  • D’Bodor dan Group musik Team Lo tidak diatur pakem mereka melawak memanfaatkan lagu dengan cara diplesetkan baik syair atau iramanya seperti lagu Sella on seven (Sepia) berubah diplesetkan jadi lagu Rhoma Irama (Begadang), Lagu Balada Ebiet G. Ade jadi lagu daerah Jawa Barat.

Di Jakarta ( Betawi ), ada kesenian Topeng dan Lenong, kedua kesenian itu banyak menjadikan Pelawaknya terkenal seperti H. Malih, Mandra, Omas, Mastur yang berangkat dari seniman Topeng. H. Bolot, Mak Nori, Hj. Tonah, H. Nasir (alm) adalah seniman Lenong. Gaya mereka dalam melawak lebih kepada menonjolkan dialek Betawi dan gaya sinisme dan slipstick.

Dibeberapa daerah pun ada punya kesenian semacam Lenong dan Topeng seperti Bangsawan Jenaka di Sumatera ( Riau ), Ketoprak dan Ludruk di Jawa Tengan dan Timur.

Panggung Srimulat seperti yang kita kenal karena banyak Pelawaknya yang Populer seperti Basuki (alm), Gepeng (alm), Tarsan, Kadir, Rohana, Eko DJ, dll mereka melawak sering menggunakan gaya analogi (anuland).

Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro), Bagito Cs (Miing, Didin, Unang) mereka dalam melawak lebih menggunakan gaya olah logika dan satire. Banyak lagi bermunculan lewat acara tayangan TV seperti Bajaj Bajuri, Ngelaba, Extra vaganza acara tersebut lebih kepada melawak gaya komedi situasi.

Jakarta, 11 April 2008

Penulis,

penulis

KOSIM BALAGA