BIAYA  SRUKTUR  MODAL

Semua  modal punya  biaya yang  dibedakan menjadi   2 :

  1. Biaya  explisit    : biaya yang nampak di bayar perusahaan seperti biaya bunga dll.
  2. Biaya  Implisit   : biaya yang  tak nampak dibayar seperti biaya MS.

STRUKTUR MODAL PADA PASAR  MODAL DAN TAK ADA PAJAK.

Pasar  modal sempurna adalah

Psr modal yang sangat kompetitif ( tak ada biaya kebangkrutan, biaya  transaksi ,bunga simpanan dan pinjaman sama berlaku bagi semua pihak )

Asumsi :

–          Laba OP konstan

–          Semua Laba bagi pemegang saham di bagi sebagai divden

–          Htg permanen

–          Pergantian  surat htng dihitung secara lgs.

B. MS ( ke : cost of equity )

˜

EPS

( 1 + ke )

S          =                  =                                             S = nilai psr MS

n – 1                                                   EPS = laba per Lb. shm

ke=  EPS/ S

Biaya Modal bagi para Kreditor ( cost of debt / biaya  hutang )

F

B

kd         =                , kd   =  biaya  hutang

H    =  nilai hutang

F = bunga hutang yang dibagi Perusaahan (u/ kreditor)

B. Modal perusahaan ( Biaya Modal Rata-rata Tertimbang / WACC).

S                                         H

B

S

H + S

H + S

k0 =          ke (                           ) +  kd  (                               )

Atau dengan cara lain :

O

Laba Operasi                          EBIT

Laba OP

V

Nilai Perusahaan

=                                         =

Nilai perusahaan =  V    =      H+ S                  V           Biaya

Pendekatan tradisional

Dalam psr modal yang sempurna dan tak ada pajak, nilai perusahaan ( biaya  modal Prsh) bisa dirubah dengan merubah str. modalnya ( H / S ).

Contoh:

PT. A punya 100 % MS, laba diharapkan / tahun = Rp 10 juta ke = 20 %

Maka Nilai perusahaan dan biaya modal perusahaan sbb :

EBIT                 laba bersih OP                         :  Rp 10 juta

i            bunga                                                  :  Rp  0

EAT     laba bersedia untuk pemiik saham          :   Rp 10 juta

ke        Biaya MS                                              :   0,20

S          Nilai MS                                               :  Rp 50 juta

H         Nilai pasar hutang                                  :  –

V         Nilai perusahaan                                    :  Rp 50 juta

50
0

50

50

ko         =          0,2        (                         )   +   O  (                    )  =   0,20

Jika PT A akan mengganti MS dengan htg, kd  = 16 %, i / tahun  = Rp 4 juta. Maka htg   ↑, Risiko perusahaan ↑, Biaya MS ( ke ) ↑ =  22%  ( 0,22 ).

Asumsi laba bersih tak berubah, maka :

EBIT                 laba bersih OP                                                 :  Rp 10 juta

i           bunga                                                              :  Rp 4 juta

EAT     laba bersedia untuk pemiik saham                      :   Rp 6 juta

Ke         Biaya MS                                                        :  0,22

S           Nilai MS                                                          : Rp.27,27 juta

H          nilai pasar hutang                                              :  Rp.25 juta

V         nilai perusahaan                                                :  Rp 52,27 juta

ko         B modal perusahaan                                          :  0,191 = 19,1%

Nilai perusahaan jadi lebih baik karena mengg hutang :

Nilai perusahaan↑→ B. MS↑

Jika sebelum perusahaan menggunakan hutang                  ∑  lmb. saham  = 1.000 lmb.

, harga   = Rp 50.000 / lembar .

Perusahaan mengg. sebagian saham dengan hutang ( Rp 25 jt atau 500 lb ),

maka Nilai saham ↑      :

27,27 juta

500

=                            = =  =Rp 54,510

PENDEKATAN MODIGLIANI DAN MILLER (MM)

MM bilang P. Tradisional tidak benar. Proses arbitrase membuat harga saham ( Nilai perusahaan ) ↑,  mk. Perusahaan menggunakan hutang atau tidak akhirnya sama.

Proses orbitrase:  Investor sll lebih menyukai investasi dengan dana lebih sedikit tp hasil

dan resikonya sama

Contoh diatas:

–          Arif punya 20 % saham PT.A, yang menggunakan hutang.

Maka nilai kekayaan Arif = 0,2 X Rp 27, 27 juta = Rp 5,45 juta

–          sedang PT.B yang identik PT.A tak punya hutang.

Maka proses Arbitrase dilakukan sebagai berikut :

1.  Jual saham PT A : Rp 5,45 juta

2.  Pinjaman Rp 5,45 juta merupakan nilai hutang PT. A = 20%

3.  Beli saham PT. B nilai 0,20  X Rp 50 juta = Rp 10 juta

4.  Arief  dapat penghematan, investasi hny. sebesar = Rp 0,45 juta

Catatan.

    • 20% saham Arief di PT A  è E (R) = 0,20 X Rp 6 juta    = Rp 1,2 jt
    • 20% saham Arief di PT B  è E (R) = 0,2 X Rp 10 jt        = Rp 2    jt

Punya hutang Rp 10 jt        bunga = 0,16 X Rp 5 jt  = Rp 0,8 jt

Keuntungan bersih        = Rp 1,2 jt

Artinya :

Arief dapat mengharap laba yang sama Rp 1,2 jt dengan resiko sama ( karena proporsi hutang yang di tanggung sama ), tp investasi lebih kecil Rp 0,45 jt.

Proses Arbitrase ini memungkinkan

Pemodal menjual saham PT A ( harga akan turun ) dan membeli saham. PT B ( harga akan naik ). P. Arbitrasi ini berhenti sampai pemodal tak lagi dapat penghematan dari menjual PT A dan beli PT B.

Kejanggalan pada proses penggantian MS dengan Hutang diatas :

  • PT A mengganti MS dengan hutang sebesar Rp 25 jt.
  • Nilai MS PT A menjadi = Rp 50 jt – Rp 25 jt = Rp 25 jt ,  bukan Rp 27,27 juta
  • ke =  EAT / S = 6 jt / 25 jt = 24%
  • Dengan kd = 16% , mk biaya modal perusahaan ( ko ) =

ko = 24% ( 24 /  50 ) + 16% ( 25 / 50 ) = 20 % dengan MS / Hutang sama.

  • Dalam keadaan pasar modal sempurna = tak ada pajak ,

biaya MS = ke = keu + ( keu – kd ) ( H / S ) ; keu = b. MS

ke ( setelah menggunakan hutang ) = 20%  + ( 20% – 16 % ) ( 25 / 25 ) = 24 %

Catatan

kd < ke, karena pemilik MS menanggung resiko lebih besar dari pemberi kredit dan pasar

sangat kompetitif

Sebab:  1 Penghasilan dari pemilik MS lebih tidak pasti di bending kreditor

2.dalam peristiwa likuidasi, pemilik MS akan menerima bag. paling akhir      setelah      kredit -kredit dilunasi

Jadi MM menunjukkan dlm keadaan pasar modal sempurna dan tak ada pajak, maka kep. pendanaan jadi tak relevan, karena pengg hutang / MS  memberi dampak yang sama

PASAR MODAL SEMPURNA & ADA PAJAK

Dengan adanya pajak kep. pendanaan jadi lebih relevan, karena bunga yang di bayarkan (karena hutang ) bisa digunakan untuk mengurangi penghasilan yang dikenakan pajak .

Contoh

PT. D                               PT. E

EBIT                                   Rp 10 jt                           Rp 10 jt

i                                                  –                                      4 jt

EBT                                     Rp   10 jt                        Rp   6 jt

pajak ( 25% )                       Rp 2,5 jt                         Rp1,5 jt

EAT                                     Rp 7,5 jt                         Rp4,5 jt

PT E pajaknya jadi lebih kecil è Rp 1jt

Jika ini tiap tahun maka :

Rp 1 juta

Rp 1 juta

~

Rp

( 1+ r ) t

PV penghematan pajak =                                                        = =

kd

t=1

Jadi Selisih nilai perusahaan atas MS dengan hutang sebesar PV penghematan :

Vu =  Vs + PV penghematan ,  Vu = nilai prsh mengg hutang

Vs = nilai prsh mengg. MS

Jika PT. D punya keu 20% ; kd =16% , maka nilai PT E

Rp 7,5 jt

Vs =                                         =  Rp 37,5 jt

Rp 1 uta

0.2

0,16

Penghematan pajak     =                                       =     =  Rp 6,25 juta

Maka Vu =  Rp 37,5 juta + Rp 6,25 juta  =  Rp 43,75 juta .

Jika kd = 0,16 bunga di bayar per tahun = Rp 4 juta

Rp 4 uta

0,16

Maka nilai H  =                                       Rp 25 jt.

Diatas Vu ( nilai perusahaan E ) = Rp 43,75 juta,

mk :  S ( nilai MS ) = Rp 43,75 jt – Rp 25 jt                     = Rp 18,25 jt

karena yang tersedia bagi pemilik perusahaan  =  Rp 4,5 jt / tahun

Rp 4,5 jt

18,75

maka    ke  =                          =   = 0,24

# . ko dihitung  dengan 2 cara =

1. ko     =  EBIT ( 1 – t )  /  V  =  10  ( 1 – 0,25 ) / 43,75 = 0,171

2. Dg menghitung biaya modal rata-rata tertimbang :

Ko    =  ke  ( S / n ) + kd ( 1 – t ) ( H / V )

Dalam perhit. kd = kd (1- t ), karena bunga dapat digunakan sebagai pengurang pajak

Contoh diatas, PT E = Bunga  =Rp 4 jt , pajak = Rp 1 juta

Biaya neto    = Rp 3 juta

Dengan nilai Hitang = Rp 25 juta è B. Htg stl pjk= 3 / 25 = 0,12  atau

Kd  = Kd  ( 1 – t ) = 0,16 ( 1 – 0,25 ) = 0.12

Jadi B. Modal Rata-Rata tertimbang ( WACC )=

= 0,24 ( 18,75 / 43,75 ) + 0,16 ( 1-0,25 ) ( 25 / 43,75 )

= 0,1714

Pendapatan MM tentang pengg. hutang > MS, jika ada pajak di kritik praktisi.

Asumsi pasar modal sempurna menyatakan B.MS (ke) :

ke = keu + ( keu – kd ) ( B / S ) ( 1-t )

Maka:

ke PT E = 20 % + ( 20 % – 16% ) ( 25 /  18,75 ) = 24%

Mengapa tidak menggunakan ekstrem leverage

Jika psr. modal tak sempurna, mungkin muncul biaya kebangkrutan yang cukup tinggi.

Biaya  kebangkrutan :

1. legal fee ( untuk ahli hukum dalam penyelesaian claims )

2. distress price ( perusahaan dijual dengan harga murah )

Kemungkinan terjadi bangkrut ↑  è maka dengan hutang jadi tidak baik

– Jika bangkrut è Biaya  MS akan dengan cepat ( tak normal  ≠ 24% lagi )

Contoh

Perusahaan menggunakan H / S = 2,

maka biaya  MS = keu = 20% + ( 20 % – 16% ) ( 2) ( 1 – 0,25 ) = 26 %

– jika ke tak berubah , maka b. Modal perusahaan =

ko = 16 % ( 1-0,25 ) ( 2 / 3 ) + 26 % ( 1 / 3 ) = 16,67 %

Jika  masalah  kebangkrutan di pertimbangkan , maka biaya  MS menjadi:

Misal ke naik dari 26 % è 30 % sehingga :

ko = 16 % ( 1-0,25 ) ( 2 / 3 ) + 30 % ( 1 / 3 ) = 18 %

( Artinya biaya modal rata-rata ( htg / MS )= 2 > 1,33 è lebih jelek

Ini mungkin bank tak berani membiayai PT seperti ini karena resiko atau menggeser ke kreditor

Contoh

Orang punya MS = Rp 1000 jt, dia bisa buat PT dengan dana Rp 1000 jt,

atau hanya invest di PT Rp  100 jt & 900 jt  hutang dari kreditor

Jika PT ternyata tak berhasil , dana bisa diuangkan sebesar Rp 600 jt

Maka :  dengan 100 % MS è rugi yang di tanggung Rp 400 jt

dengan  90 % hutang è rugi yang ditanggung = Rp 100 jt , yang Rp 300 jt di

tanggung oleh kreditor ,maka:

kreditor tak mau ngasih pinjam tanpa jaminan

Personal Tax

jika ada pajak pribadi = 20 %

maka laba PT. E jika di bagikan sebagai dividen , pemilik saham tak akan terima sebesar Rp 4,5 jt , tapi hanya :

( 1- 0,25 ) ( Rp 4,5 jt ) = Rp 3,375 jt

Jika pemodal punya obligasi PT. E & PT. E membayar bunga obligasi = Rp 4 jt,

maka penghasilan bersih yang diterima pemilik obligasi =

(1- 0,25 ) ( Rp 4 jt )  =  Rp 3 jt